Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham sektor pertambangan naik 2,51 persen ke level 1.184 pada pekan ini dibanding indeks tambang pekan lalu yaitu 1.155.
Sementara, masih ada tiga sektor lainnya yang juga menguat sepanjang pekan ini, yaitu agrikultur yang naik tipis 0,29 persen, lalu industri dasar naik 0,50 persen, dan aneka industri naik 0,93 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penguatan saham sektor pertambangan disebabkan naiknya harga batubara sejak awal pekan ini menjadi US$70,75 per ton dari yang sebelumnya berkisar US$68 per ton.
"Harga tertinggi batubara tahun lalu itu US$71,1 per ton. Jadi tinggal dikit lagi," ucap Krishna, Jumat (9/9).
Dengan begitu, ia melihat emiten yang bergerak dalam bisnis batu bara menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks sektor tambang pekan ini. Emiten tersebut misalnya saja PT Adaro Energy Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk.
Tak hanya baru bara, harga timah juga kembali bangkit ke level tertinggi terbarunya tahun ini, yakni US$19.700 per ton. Lagi-lagi, harga tersebut hampir menyamai harga timah tertinggi tahun lalu yaitu US$19.900.
Sementara, saham sektor infrastruktur, kata Khrisna, sangat berkaitan dengan pemberitaan makro. Di mana pemerintah menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 5,2 persen menjadi 5,1 persen. Selain itu, perolehan dana amnesti pajak yang lagi-lagi masih mempengaruhi laju sektor infrastruktur.
"Begitu makro terganggu, saya rasa infrastruktur ikut turun. Sektor ini memang yang terkena pertama kali kalau makro Indonesia jelek," ungkapnya.
"Yang paling potensial masih pertambangan, karena dipengaruhi faktor global. Sekarang itu, faktor negatif banyak datang dari domestik," ungkapnya. (gir)