Direktur Utama Bank Mayapada Haryono Tjahjarijadi mengatakan, saat ini modal inti perseroan masih berkisar Rp4,1 triliun - Rp4,2 triliun. Dengan rights issue diperkirakan modal intinya terkerek mencapai Rp5,2 triliun.
“Kalau melihat prosesnya, menyerap hasil rights issue, melapor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk kemudian dicatat. Sehingga, baru tahun depan kami bisa naik kelas menjadi bank umum kegiatan usaha (BUKU) 3,” ujarnya, Kamis (15/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma itu, perseroan bahkan mulai menggemukkan bisnis konsumer yang digelutinya dengan menerbitkan kartu kredit, kredit tanpa agunan, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit kendaraan bermotor (KKB).
Per Juli 2016, Bank Mayapada tercatat menyalurkan kredit Rp41 triliun atau melesat 33 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Korporasi sektor properti dan konstruksi memberi kontribusi positif terhadap bisnis perseroan.
Rasio kredit bermasalah alias nonperforming loan (NPL) perseroan mencapai 2,6 persen. Meski trennya meningkat, Haryono mengklaim, realisasinya masih di bawah NPL industri yang menyentuh 3 persen.
“Diharapkan, pertumbuhan kredit sampai akhir tahun nanti bisa menyentuh 15-16 persen. Kami tidak berani mematok pertumbuhan lebih tinggi, mengingat pertumbuhan kredit year to date Januari-Juli di kisaran 15 persen,” imbuh Haryono. (gen)