Negara tetangga, yakni Singapura dan Malaysia disebut masih menerima ekspor dari Indonesia berupa pasir timah (ore) hingga saat ini. Padahal, AETI menegaskan pemerintah Indonesia telah melarang ekspor komoditas dalam bentuk bahan baku atau belum diolah.
"Sebenarnya ini tidak banyak yang tahu. Kami mendapat laporan dari Singapura dan Malaysia, mereka melaporkan masih menerima ekspor pasir timah, padahal Indonesia dari 2007 sudah ada larangan itu," ucap Ketua AETI Jabin Sufianto di Bali, Senin (19/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang kecil, tapi itu yang terdata, apalagi yang enggak terdata," imbuhnya.
"Misalnya perusahaan A di Jakarta, yang juga mendapat suplai dari timah, tetapi ketika dicek barangnya tidak sampai. Jadi itu ke mana?" ungkapnya.
Menurutnya, saat ini AETI tengah melacak kasus tersebut karena pengiriman timah antar pulau sudah menjadi modus penyelundupan timah. Jabin menyatakan, kemungkinan besar terdapat volume yang tinggi dalam penyelundupan tersebut
Contoh lainnya, perusahaan A mengirim timah ke perusahaan di Jakarta sebanyak 150 ton. Namun, yang diterima hanya 99 ton, sedangkan sisanya tidak diketahui ke mana.
"Misalnya nih ada pengiriman dari Bangka ke Jakarta 150 ton, sementara kami tau nih perusahaaan tersebut baru bisa ekspor 99 ton lalu sisanya yang 51 tonnya ke mana? Atau sebaliknya deh 51 ton di ekspor, lalu yang 99 tonnya ke mana? Terus pas dicek ke perusahaan terkait timahnya enggak ada," paparnya.
Menurutnya, kasus yang terjadi pada tahun ini merupakan kasus kebocoran ekspor terbesar sejak Jabin menjabar sebagai Ketua ATEI pada tahun 2014. Jabin menyatakan, banyak pihak yang melaporkan kasus kebocoran eksport tersebut kepadanya. Sayangnya, ia belum mendapatkan bukti dari kasus pengiriman timah antar daerah tersebut.
"Banyak sekali yang lapor ke saya. Tapi saya belum dapat bukti. Jadi bisa dibilang tema tahun ini adalah kebocoran, kinerjanya jadi enggak maksimal," imbuhnya.
Dengan demikian, ia menginginkan masalah ini juga menjadi perhatian para pemangku kepentingan di industri timah, agar kebocoran ekspor tersebut bisa diminimalisir.
“Supaya semuanya juga membuka matanya terhadap masalah itu,” tutupnya. (gir)