Heru Dewanto, Vice President Director Cirebon Power menuturkan saat ini Indonesia memiliki lebih dari 5 ribu pembangkit listrik dengan kapasitas total 55 ribu MW. Namun, sebagian besar masih menggunakan teknologi subcritical yang masih banyak mengkonsumsi batubara, menghasilkan emisi gas buang tinggi, dan penanganan limbah PLTU yang seringkali belum memenuhi standar.
“Inilah yang menyebabkan PLTU yang digerakkan oleh batubara dinilai merusak lingkungan. Banyak yang mendorong peralihan ke energi terbarukan seperti yang dilakukan negara-negara lain, namun biaya pengembangannya lebih mahal empat kali lipat,” kata Heru, Selasa (27/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dengan teknologi batubara bersih, PLTU tidak seperti dulu lagi. Teknologi subcritical mulai ditinggalkan dan beralih ke teknologi ultracritical yang membuat PLTU bisa beroperasi dengan lebih efisien. Lebih sedikit konsumsi batubara, lebih sedikit emisinya,” jelasnya.
Ia menuturkan PLTU ini menghasilkan jumlah abu sisa pembakaran yang lebih sedikit, berkat fasilitas pembuangan dengan teknologi terkini.
Agar debu batubara tidak merusak lingkungan, perusahaan juga memasang wind breaker setinggi 13 meter di sekitar area penampungan batubara. Sementara, menara pendingin dibangun agar air yang dibuang kembali ke laut tidak mengalami peningkatan suhu lebih dari 2 oC.
Atas inovasi pengolahan limbah PLTU yang dikelolanya tersebut, Cirebon Power diganjar penghargaan Coal Power Project of the Year dari Asian Power Awards di Seoul, Korea Selatan pada 21 September 2016 lalu.
“Dalam waktu dekat, kami tengah menyiapkan beroperasinya PLTU Cirebon unit 2 berkapasitas 1.000 MW di atas lahan milik pemerintah seluas 204 hektare. Kami tetap berkomitmen menjalankan kebijakan pengembangan energi yang berkesinambungan dalam proyek tersebut,” kata Heru.