Harga premium dipastikan turun sebesar Rp300 per liter, dari Rp6.450 menjadi Rp6.150 per liter. Sementra harga solar akan naik sekitar Rp500-Rp600 per liter menjadi Rp5.650-Rp5.750 per liter.
Kepastian itu diungkapkan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja Puja di Aljazair seperti dikutip dari Detik.com, Rabu (28/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Wiratmaja, rata-rata harga premium dan solar mengalami perubahan dalam tiga bulan terakhir. Pemerintah memilih untuk tidak menahan kenaikan atau penurunan harga BBM penugasan tersebut agar masyarakat terbiasa dengan bahan bakar yang berfluktuatif sesuai mekanisme pasar.
Dia menerangkan, sebenarnya PT Pertamina (Persero) masih mengantongi surplus subsidi solar mengingat harga patokan yang ditetapkan pemerintah untuk periode penjualan beberapa bulan yang lalu lebih tinggi dari harga riil di pasar. Kendati demikian, harga bahan bakar ini tetap akan naik dan selisih subsidinya akan diperhitungkan pad atahun depan.
"Kan akhir tahun kita hitung plus atau minus. Nanti kalau surplus dikembalikan atau bagaimana, kalau minus bagaimana, akan kita bicarakan," tukasnya.
Khusus untuk harga premium, Wiratmaja mengatakan selisih harganya dengan harga pasar sudah sangat tipis. "Dalam enam bulan terakhir (harga premium) sudah mendekati, pas-pasan lah," tutupnya. (ags/gen)