"Di Indonesia, pertumbuhan akan naik secara stabil dari 4,8 persen pada 2015 menjadi 5,5 persen pada 2018," kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Sudhir Shetty, dalam keterangan resmi, Rabu (5/10).
Prediksi pertumbuhan tersebut, lanjutnya, sangat bergantung pada ada atau tidaknya kenaikan investasi publik, perbaikan iklim investasi, serta kenaikan penerimaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena itu, Indonesia perlu memperkuat regulasi makroprudensial dan manajemen risiko mikroprudensial," terang Shetty.
Sementara itu, Ekonom Bank Dunia Masyita Crystallin menyebut bahwa selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan kredit cenderung melambat, namun tidak menempatkan Indonesia dalam situasi mengkhawatirkan.
"Faktanya, kami mendukung pertumbuhan kredit lebih tinggi untuk mendorong lebih banyak investasi di masa mendatang," imbuh dia.
Sedangkan, utang luar negeri Indonesia selama tiga tahun belakangan juga dianggap berkurang. Total utang luar negeri Indonesia sebanyak 60 persen dimiliki asing dan 40 persen sisanya dimiliki WNI. (bir)