"Kami minta Jepang untuk memberikan semacam proposal, apa yang dimaksud dan akan dikerjakan. Termasuk timeframe-nya," kata Budi saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Selasa (11/11).
Budi mengatakan pemerintah telah menawarkan proyek konektivitas tersebut kepada Jepang sebagai tindak lanjut dari hasil pertemua Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di proposal itu akan mengatakan misalnya bisa menggunakan rel yang ada tapi menghilangkan lintasan sebidang. Itu yang paling rasional. Atau mengganti kereta api dengan sistem lain. Proposal itu yang belum kami dapatkan," katanya.
"FS paling dua atau tiga bulan maksimal. Bersamaan itu mungkin juga akan datang FS dari Jepang. Setelah FS, perencanaan, pembangunan bisa dilakukan paling tidak tiga-empat tahun," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengharapkan Jepang dapat mengerjakan proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya.
"Kami sudah menyampaikan surat resmi kepada Pemerintah Jepang untuk dapat mengerjakan proyek ini. Secara pribadi saya yakin teknologi Jepang tepat untuk proyek ini," katanya.
Dalam lawatan ke Jepang sejak Kamis (6/10), Luhut bertemu dengan Perdana Menteri Shinzo Abe, Menteri Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata Keiichi Ishii, Wakil Menteri Luar Negeri Shinsuke Sugiyama dan beberapa anggota muda Liga Parlemen Jepang Indonesia.
Luhut menjelaskan, dengan adanya kereta semi cepat Jakarta-Surabaya berkecepatan 180 km per jam hingga 200 km per jam akan mempersingkat waktu tempuh menjadi sekitar 3,5 jam.
"Jalurnya akan berupa rel ganda, yang memungkinkan untuk dimanfaatkan juga guna membantu operasi angkutan peti kemas dry port antara Jakarta-Semarang-Surabaya," katanya. (ags)