Rofi Munawar, Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang membidangi sektor ESDM menyebut ada tiga pekerjaan rumah (PR) yang belum selesai dikerjakan menteri-menteri ESDM pendahulu Jonan.
Tiga PR tersebut adalah menyelesaikan revisi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi (UU Migas) dan UU Mineral dan Batu Bara (Minerba), menuntaskan persoalan kontrak karya PT Freeport Indonesia, dan memastikan megaproyek listrik 35 ribu Megawatt bisa selesai sesuai target pada 2019 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rofi tak mempersoalkan latarbelakang Jonan yang tak pernah bersentuhan dengan sektor ESDM. Menurutnya, Arcandra sebagai Wakil Menteri ESDM yang sebelumnya berkecimpung secara profesional di sektor itu dapat memberikan dukungan berbagai pekerjaan teknis Jonan.
"Karena itu mempengaruhi industri kita yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan penerimaan pajak. Itu pekerjaan rumah yang harus jadi fokus," kata Satya.
Politikus Golkar yang sempat dikabarkan mengisi posisi menteri ESDM ini meminta agar Jonan-Arcandra harus segera berkomunikasi dan mengkonsolidasikan jajaran pejabat eselon 1, untuk mengambil keputusan.
Kritik Jokowi
Namun, tidak semua Anggota Komisi VII DPR menyatakan dukungan atas pilihan Jokowi menunjuk Jonan dan Arcandra sebagai duet pemegang komando Kementerian ESDM.
Inas Nasrullah Zubir, Anggota Komisi VII yang lain mengaku tak habis pikir dengan penunjukan keduanya.
Menurut Inas, Jonan tidak berprestasi di Kementerian Perhubungan sehingga posisinya digantikan Budi Karya Sumadi.
Ia juga mengkhawatirkan karakter Jonan yang temperamen akan membuat kegaduhan baru di Kementerian ESDM.
"Dengan adanya wakil menteri, kelihatan sekali memaksakan supaya Arcandra masuk kembali ke ESDM," ujar Inas.
Menurutnya, Arcandra lebih layak menduduki posisi Kepala SKK Migas untuk membuktikan kapasitasnya terlebih dulu sebelum masuk ke lingkungan ESDM.
Sebelumnya, Jokowi menjelaskan, pilihannya menunjuk Jonan lantaran karakter keras yang dimiliki mantan bos PT Kereta Api Indonesia (Persero) itu.
“Butuh figur profesional yang berani dan punya kompetensi untuk melakukan reformasi besar-besaran di ESDM. Sektor ini butuh orang yang keras kepala, tetapi juga suka terjun ke lapangan untuk melihat langsung,” kata Jokowi, di Istana Negara, kemarin.
Menurut Jokowi, penunjukan Jonan dan pengangkatan Arcandra murni masalah manajemen. Ia meminta agar hal ini tidak ditarik ke isu personal maupun politik. (gen)