Direktur Utama BNI Syariah Imam T Saptono mengungkapkan, pertumbuhan laba bersih ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan, peningkatan komposisi rasio dana murah, dan kontribusi dari pendapatan berbasis komisi (fee based income).
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pembiayaan anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk tersebut mencapai Rp19,53 triliun atau meningkat sebesar 15,09 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp16,77 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kenaikan aset dan pembiayaan tersebut, kami bisa tumbuh di atas rata-rata industri," ujar Imam, Kamis (20/10).
Diikuti oleh, pembiayaan komersial sebesar Rp3,16 triliun atau 16,21 persen, mikro Rp1,14 triliun atau 5,85 persen, dan kartu pembiayaan Hasanah Card sebesar Rp376 miliar atau 1,93 persen.
"Untuk pembiayaan konsumer, sebagian besar portfolio ditopang oleh pembiayaan BNI Griya iB Hasanah, yakni sebesar 85,51 persen. Kedepan, BNI Syariah akan mengurangi pembiayaan konsumer sesuai dengan arahan OJK dan memperbesar pembiayaan komersial," jelas Imam.
Pembiayaan Macet Membayangi
Kendati berhasil membukukan pertumbuhan pembiayaan, BNI Syariah harus memutar otak menekan rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming finance/NPF). Pasalnya, pada kuartal III 2016, NPF Gross BNI Syariah mendaki dari 2,54 persen menjadi 3,03 persen.
"Ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang belum membaik. Beberapa nasabah kami harus direstrukturisasi agar bisa melunasi kewajibannya. Namun, ini masih manageable (terkendali). Mudah-mudahan tahun depan sudah membaik," katanya.
Adapun, sebagai strategi menekan NPF, perseroan berniat mengerek pencadangan dari 83 persen menjadi sebesar 88 persen. Cadangan diambil dari laba perseroan. Dengan pencadangan, rasio NPF bersih (nett) BNI Syariah berkisar 1,41 persen.
"Kami cukup tinggi mencadangkan provisi untuk mengantisipasi ekonomi yang melambat," pungkasnya. (bir/gen)