"Selama ini, PLB untuk industri makanan dan minuman belum ada. Kami sedang dorong. Sudah ada yang minat, misalnya ke Cikarang Dry Port," ungkap Adhi S Lukman, Ketua GAPMMI pada perhelatan Jakarta International Logistic Summit & Expo (JILSE), Kamis (20/10).
Namun demikian, Adhi mengusulkan, sebaiknya pemerintah membuat kawasan khusus untuk PLB industri mamin, sehingga tidak digabung dengan industri lain. "Karena untuk mamin tidak boleh dicampur dengan yang lain, misalnya elektronik atau otomotif," jelas Adhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sangat lumayan, karena sebelumnya harus bongkar muat dan proses pengujian itu lama. Kemudian, biaya untuk kapal sandar cukup besar. Belum lagi, kalau kapal besar, butuh sebulan untuk bongkar muat," imbuh dia.
"Jadi, PLB ini bagus untuk manajemen bahan baku, karena nanti semuanya free flow. Biaya dwelling time berkurang. Apalagi, bahan baku kita masih banyak yang impor," terang Adhi.
Tak hanya untuk impor, efisiensi juga akan terasa untuk ekspor. Sebagai gambaran saja, pabrik perlu menyiapkan waktu sekitar tiga hari untuk menyediakan pasokan produk sebelum ekspor.
Nah, dengan PLB, pabrik dapat langsung memasok produk mamin. Lalu, saat kapal bersandar, produk langsung dapat masuk kapal dan diekspor. (bir/gen)