Pada kuartal III 2016, pangsa pasar Sampoerna mencapai 34,5 persen, meningkat sebesar 0,4 persen dari pangsa pasar di kuartal II. Pertumbuhan pangsa pasar ini didorong oleh kinerja yang kuat di segmen sigaret kretek mesin (SKM) full-flavor.
Perusahaan juga mencatatkan pendapatan bersih (tidak termasuk cukai) dalam sembilan bulan pertama 2016 sebesar Rp31,8 triliun, tumbuh sebesar 4,9 persen dari Rp30,3 triliun pada periode yang sama di tahun 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Direktur Sampoerna Paul Janelle mengaku bangga Sampoerna tetap menjadi pemimpin pasar di Indonesia. Kesuksesan tersebut, lanjutnya, diraih berkat fundamental perseroan yang kuat, yaitu kepercayaan dari para rekanan dan pemangku kepentingan, serta dedikasi dan kerja keras dari para karyawan.
Sampoerna mengantisipasi penurunan volume industri hasil tembakau secara keseluruhan sebesar 1 sampai 2 persen di tahun 2016, yang terutama diakibatkan oleh kenaikan tarif cukai rata-rata tertimbang sebesar 15 persen.
“Industri ini diperkirakan masih akan terus mengalami tekanan sehubungan dengan kenaikan tarif cukai rata-rata tertimbang sebesar kira-kira 10 persen yang berlaku rata atas seluruh pelaku industri mulai tanggal 1 Januari 2017,” kata Janelle.
Beban ini diperkirakan mengakibatkan kinerja segmen sigaret kretek tangan terus menurun, seiring dengan peralihan preferensi perokok dewasa dari produk kretek tangan ke kretek mesin. Pada kuartal ke-3 tahun 2016, pangsa pasar Sampoerna di segmen sigaret kretek tangan mengalami penurunan sebanyak 0,8 persen dari periode yang sama di tahun 2015 menjadi 6,6 persen.
“Sampoerna memiliki komitmen terhadap segmen sigaret kretek tangan, dan untuk itu, kami melakukan sejumlah upaya untuk menahan laju penurunan di segmen ini, termasuk melakukan inovasi untuk meningkatkan mutu merek Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek, menawarkan harga yang bersaing untuk produk sigaret kretek tangan kami, serta berinvestasi pada merek melalui dukungan pemasaran dan penjualan,” tegas Paul.
"Peta pasar persaingan kami lihat tidak akan mengalami perubahan. Di sisi lain, kami juga percaya kontinuitas tekanan dari berbagai pihak untuk menurunkan angka perokok masih akan terjadi dan berpotensi semakin menekan kinerja di tahun mendatang," ujarnya dalam riset.
Akhmad menilai, kunci terjaganya stagnasi pertumbuhan pendapatan maupun laba akan datang dari konsistensi kenaikan rata-rata harga jual untuk menjaga kenaikan biaya cukai. (gir/gen)