“Bank Dunia memang menganggap kita sebagai negara yang menjanjikan, tetapi sekali lagi presiden belum puas,” ujar Pramono di Istana Negara, Rabu (26/10).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menambahkan dirinya juga memiliki kekecewaan tersendiri dengan hasil survei Bank Dunia tersebut. Darmin mengaku mendapat penjelasan dari Bank Dunia bahwa upaya pemerintah melakukan deregulasi aturan penghambat investasi melalui berbagai paket kebijakan ekonomi sedikit terlambat dari batas waktu terakhir survei dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya sebenarnya yakin paling tidak ada satu indikator lagi yang membaik. Tapi Bank Dunia mengatakan perubahan aturan kita agak terlambat saat mereka survei. Sehingga tidak bisa terekam lagi pelaksanaannya di lapangan. Mudah-mudahan masuk di tahun depan,” ujar Darmin.
“Ada sejumlah negara yang mereka sebut top reformers, yang melakukan reformasi atau perbaikan yang paling tinggi. Itu mereka mendata ada 10 negara dan kita masuk kelompok top reformers tersebut,” kata Darmin.
Masyarakat dan dunia usaha menurut Darmin, harus terus mendukung pemerintah melakukan berbagai perbaikan iklim investasi. Pasalnya pencapaian Indonesia yang berhasil menaikkan peringkat, justru tidak diikuti oleh negara tetangga terdekatnya.
“Malaysia turun lima peringkat, Singapura turun satu, Thailand hanya naik tiga peringkat, Brunei naik 12 peringkat, dan Vietnam delapan peringkat,” katanya.