Direktur Retail Banking Mandiri Tardi menilai tahun depan daya beli masyarakat masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu pertumbuhan segmen retail banking secara keseluruhan ditargetkan bisa mencapai 15-16 persen.
Guna mengejar target tersebut bank berlogo pita emas tersebut akan fokus mengembangkan dua produk yakni Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang akan digenjot menjadi 20 persen dan pinjaman pribadi (personal loan) yang ditargetkan meningkat 17 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping menggenjot pertumbuhan KPR, Mandiri juga akan mendorong pertumbuhan kartu kredit individu sebesar 13 persen. Sementara untuk e-money, Tardi menargetkan pertumbuhan volume kartu baru hingga 25 persen untuk tahun depan.
"Kartu kredit tahun ini masih stagnan, hanya tumbuh 6 persen tahun depan kita coba naikkan dengan fokus menyasar ke segmen kalangan atas," jelasnya.
Saat ini Bank Mandiri telah bekerjasama dengan dua perusahaan prinsipal kartu kredit internasional yakni Visa dan MasterCard untuk menyediakan layanan dengan plafon kredit hingga Rp1 miliar bagi nasabah premium. Ia optimistis bisnis kartu kredit akan tetap menggeliat meski aturan kewajiban lapor kartu kredit akan mulai berlaku kembali usai program tax amnesty berakhir pada Maret 2017.
"Seharusnya sudah tidak ada masalah lagi, karena orang-orang sudah declare, jadi nasabah sepertinya sudah nyaman dan tidak terganggu dengan masalah pelaporan itu," ujarnya.
Hingga akhir kuartal III lalu, Bank Mandiri meraup laba bersih Rp12 triliun atau turun 17,6 persen dibandingkan dengan pencapaian periode yang sama tahun lalu Rp14,6 triliun. Penurunan laba tersebut terjadi karena Mandiri harus menyisihkan biaya pencadangan atau Pre-Provision Operating Profit (PPOP) perseroan mencapai Rp31,9 triliun atau tumbuh 16,4 persen. (gen)