"Kita akan tetap menjaga (rasio utang) agar tidak mengalami kenaikan tajam, saat Indonesia melakukan langkah-langkah melindungi ekonomi dari tekanan global maupun prioritas pembangunan," ujar Sri Mulyani, Jumat (28/10) seperti dikutip dari Antara.
Dia memaparkan, ada tambahan pembiayaan dari penerbitan surat utang sebesar Rp384,7 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, yang akan dimanfaatkan untuk pendanaan investasi maupun kegiatan pembangunan yang produktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Sri Mulyani juga memberikan perhatian khusus terhadap neraca keseimbangan primer, yang pada APBN 2017 mencapai Rp109 triliun. Artinya, pemerintah masih akan menanggung beban bunga utang yang cukup tinggi pada tahun depan.
Untuk menjaga momentum perbaikan ekonomi terhadap tantangan global pada 2017, ia mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung dari pembiayaan utang, namun juga dari penerimaan pajak yang targetnya naik 13,5 persen dari proyeksi pencapaian pada 2016.
"Penerimaan pajak cukup ambisius karena naik 13,5 persen, tapi kami akan lakukan secara berhati-hati, agar target ini tidak terlihat tidak realistis dan menimbulkan masalah kredibilitas," kata Menkeu.
Penerimaan pajak pada 2017, kata dia, akan bertumpu dari pajak non migas yang diproyeksikan tumbuh 15 persen dengan memanfaatkan momentum dari pelaksanaan program amnesti pajak yang pencapaiannya dianggap sesuai harapan.
"Untuk mendorong pajak non migas, caranya dengan memanfaatkan perbaikan basis data pajak dan kepatuhan wajib pajak dari momentum amnesti pajak, serta melakukan perbaikan pada sejumlah regulasi terkait perpajakan," ujar Sri Mulyani.
Dari target penerimaan perpajakan pada APBN 2017 sebesar Rp1.498,8 triliun, sebanyak Rp751,7 triliun diharapkan bisa tercapai melalui Pajak Penghasilan (PPh) non migas, sedangkan sisanya sebagian besar berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Rp493,8 triliun. (ags/gen)