Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sebanyak 234 seri obligasi negara, baik konvensional maupun syariah, dilelang dalam kurun sebelas bulan terakhir. Pelaku pasar merespons lelang tersebut dengan mengajukan penawaran hingga mencapai Rp1.190,8 triliun . Namun, pembiayaan yang diserap pemerintah hanya sekitar 53 persen atau Rp629,19 triliun.
Meskipun utang tersebut ditarik untuk mendukung pembiayaan anggaran negara tahun ini, tetapi proses lelang telah dimulai lebih cepat sebelum pergantian tahun (pre funding) sejak Desember 2015. Setidaknya ada tiga kali lelang yang digelar pemerintah pada penghujung 2015 dan menghasilkan pembiayaan sebesar Rp63,6 triliun, dari total penawaran masuk Rp127,2 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara realisasinya, pembiayaan yang ditarik pemerintah dari pasar obligasi sepanjang kuartal I 2016 mencapai Rp198,8 triliun.
Terakhir pada kuartal III, pembiayaan sebesar Rp138,92 triliun diserap pemerintah, sehingga total pembiayaan yang ditarik sejak Desember 2015 hingga akhir September 2016 mencapai Rp585,66 triliun.
Memasuki kuartal terakhir, pemerintah mengendurkan penarikan utang dari lelang obligasi. Tercatat selama Oktober 2016, jumlah penawaran investor yang dimenangkan pemerintah hanya sebesar Rp43,53 triliun.
Kemarin, Selasa (1/11), pemerintah membuka bulan baru dengan melelang empat seri obligasi syariah atau sukuk negara. Dari total penawaran masuk sebesar Rp5 triliun, yang dimenangkan pemerintah hanya Rp3,55 triliun.
Dengan demikian, total pembiayaan negara dari pasar obligasi sampai saat ini mencapai Rp632,74 triliun.
Sebelumnya, Direktur Surat Utang Negara DJPPR Loto Srianita Ginting mengungkapkan, target penerbitan SBN bruto tahun ini ditingkatkan, dari Rp611 triliun menjadi Rp654 triliun guna mengantisipasi pelebaran defisit fiskal menjadi 2,7 persen dari PDB.
Target tersebut akan menjadi rekor sepanjang sejarah penarikan utang dari pasar obligasi negara.
"Tahun ini kita catat sejarah menerbitkan SBN di atas Rp600 triliun," kata Loto, di acara launching ORI 013 di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Rabu (29/9). (ags)