“Untuk SBNP kami nyalakan supaya efektif menyala, paling tidak 99 persen” tutur Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Perambuan dan Perbengkelan dan SBNP Direktorat Kenavigasian Ditjen Hubla Sudirman kepada CNNIndonesia.com di Denpasar, Bali, Rabu (2/11).
Sudirman mengungkapkan, beberapa contoh SBNP yang kerap dipasangan di antaranya, menara suar, pelampung suar, dan rambu suar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upaya menjaga keandalan alat bantu navigasi di Indonesa, lanjut Sudirman, mengalami tantangan dari kerusakan teknis, misalnya, saat sel silikon baterai tenaga surya (solar cell) -sumber daya rambu suar- tidak dapat mengisi ulang saat cuaca mendung. Akibatnya, lampu rambu suar tidak bisa menyala. Kerusakan juga bisa terjadi saat alat bantu navigasi tertabrak kapal.
Selain itu, tantangan juga muncul dari tindakan vandalisme maupun pencurian komponen alat bantu navigasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, misalnya pencurian sel silikon dan lampu suar pada rambu suar. Pencurian ini bisa terjadi karena sulitnya pengawasan untuk alat bantu navigasi yang berada di tengah-tengah laut.
Padahal, untuk memasang rambu suar, negara perlu merogoh kocek setidaknya Rp1,1 miliar.
“Biar nanti kapal-kapal ke daerah pariwisata agar aman,” tutupnya.
Sebagai informasi, pada akhir tahun 2015 total SBNP milik Ditjen Hubla telah mencapai 2.463 buah atau lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, 2.275 buah. (gir/gen)