Rodrigo Chaves, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia mengatakan kedua bidang ini sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi kemiskinan di negara kepulauan.
“Pendanaan sebesar US$400 juta akan mendukung Pemerintah Indonesia mengatasi hambatan rantai pasokan, seperti dwelling time atau waktu menunggu kapal yang lama di pelabuhan serta banyaknya prosedur izin perdagangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (3/11)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, Chaves menjelaskan, biaya pengiriman sebuah peti kemas berisi jeruk dari Tiongkok dari kota Shanghai ke Jakarta lebih murah dibandingkan biaya pengiriman barang serupa dari Jakarta ke Padang di Sumatera Barat. Padahal jarak antara kedua kota di Indonesia tersebut hanya seperenam jarak antara Jakarta dengan Shanghai.
“Reformasi ini akan membantu Indonesia mencapai sasaran pertumbuhan inklusif yang lebih tinggi.”
Lebih lanjut, Pinjaman Kebijakan Pembangunan Reformasi Logistik juga akan mendukung Indonesia melakukan transisi yang sangat diperlukan, yaitu beralih dari ekonomi yang bergantung kepada komoditas menuju ekonomi berbasis manufaktur yang berdaya saing tinggi.
“Logistik yang mahal dan tidak handal merupakan salah satu hambatan bagi daya saing Indonesia. Teratasinya hambatan tersebut akan menambah produksi dan ekspor, sehingga mengangkat pertumbuhan ekonomi,” kata Ekonom Senior Bank Dunia, Massimiliano Calì.
“Dan dengan berakhirnya masa kejayaan komoditas, kebutuhan untuk memperbaiki daya saing dalam hal produksi non-komoditas menjadi semakin penting.”
Dukungan Bank Dunia terhadap reformasi logistik di Indonesia merupakan bagian penting dari Kerangka Kerja Kemitraan Negara Kelompok Bank Dunia di Indonesia, yang berpusat pada prioritas pemerintah yang berpotensi membawa dampak perubahan besar. (gir/ags)