Kepala Riset First Asia Capital Indonesia David Sutyanto menuturkan, minimnya sentimen positif membuat IHSG kemungkinan kembali terkoreksi pada penutupan perdagangan pekan ini. Risiko pasar justru menguat terpicu isu domestik dan eksternal, terutama terkait memanasnya politik di AS jelang pemilihan presiden. Dia memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 5.300-5.350.
"Pelaku pasar lebih banyak wait and see. Namun pemodal bisa memanfaatkan koreksi untuk mengakumulasi sejumlah saham sektoral yang mencatatkan kinerja fundamental kuat seperti di sektor telekomunikasi, konsumsi, perdagangan ritel, dan tambang," papar David melalui riset dikutip Jumat (4/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Politik sebenarnya pengaruhnya kecil ke pasar modal, mau demo di luar sana juga nggak masalah asal jangan rusuh. Jika rusuh, Indonesia akan dicap terbelakang dan asing akan memutuskan keluar sehingga terjadi capital outflow," ucap Hans.
"Karena sudah bisa diekspektasi, jadi banyak antisipasi," imbuh Hans.
Sementara, dari global sendiri terdapat sentimen pilpres AS di mana berdasarkan hasi survei politik di AS suara untuk kedua kandidat calon Presiden AS bersifat imbang. Dengan demikian, terjadi kekhawatiran pelaku pasar jika Donald Trump akan memenangkan pemilu tersebut.
Adapun, harga minyak yang terus turun juga menjadi sentimen lain dari global untuk perdagangan hari ini. Harga minyak tadi malam kembali terkoreksi 1,5 persen di US$44,66 per barel.
"Penurunan harga minyak cukup banyak menekan saham-saham komoditas. Pelaku pasar memutuskan untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking) dulu di saham-saham komoditas, karena terus turun jadi mending orang keluar dulu," pungkas Hans. (ags)