Kalimat itu terlontar dari Aat, penjual tahu gejrot yang secara tiba tiba muncul di seberang kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, bilangan Gambir, Jakarta Pusat.
Biasanya, kantor Menteri Susi Pudjiastuti ini memang selalu sepi, bukan hanya sepi pengunjung. Bahkan bisa dibilang tak ada satu pun pedagang yang berjualan di areal sekitar gedung ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya jam segini paling baru tiga porsi, ini udah tiga puluhan. Lumayanlah, rezeki," kata Aat di depan Kantor KKP, siang ini.
"Kalau rame begini, sebenarnya pendemo banyak yang piknik. Saya jual onde aja sudah hampir habis," kata Fahrizal, penjual onde yang mengaku datang dari Bekasi.
Rizal, sapaan pria tanggung beranak tiga ini memang bisa dikatakan sangat berniat datang ke Jakarta untuk mengejar untung dari para pendemo agar membeli onde-onde buatannya.
Kue bulat yang ditaburi biji wijen ini ternyata memang cukup laris dan terkenal dikalangan para pendemo.
"Aneh memang, tapi itulah yang terjadi. Katanya sambil berdemo tetap harus isi perut," kata Rizal sambil tertawa cekikikan.
"Tadi jualan dari jam 9.00 WIB, udah dapat sekitar Rp400 ribu, padahal biasanya susah laku (jual onde)."
"Laku kok mbak, tadi saya di Masjid Istiqlal, terus jalan ke Kemenlu berhenti di sini, sambil ngaso, ini udah mau habis," tutur Mukari, pria berusia sekitar 50 tahun yang berjualan dengan memanfaatkan gerobak dorong.
Beragam minuman dia jual, dari mulai kopi seduh hingga air mineral kemasan. Untuk masalah harga, dia bilang tidak berani menaikkan.
"Kasian, yang beli ini jalan jauh demo, polisi-polisi juga. Sama-sama lah, saya untung mereka juga," katanya.
Bagi para pedagang ini, hiruk-pikuk demo justru menjadi ladang mencari peruntungan besar. Mereka mengakui, pendapatannya bisa meningkat hingga dua kali lipat akibat aksi yang bisa disebut tidak setiap hari terjadi.
"Saya mah enggak peduli mau demo Ahok, mau demo siapa. Yang penting dagangan saya abis, laku. Istri senyum kalau saya pulang bawa duit," kata Mukari. (gir/gen)