Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia menilai dua faktor eksternal tersebut akan menimbulkan ketidakpastian bagi ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
“Ketidakpastian yang berasal dari luar negeri, apakah kebijakan The Fed atau Pemilu di negara lain, tentu harus diantisipasi oleh kita dari semua sektor,” kata Sri Mulyani, Selasa (8/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Hasil ini akan berpengaruh dari sisi ekspor atau impor, dari sisi arus modal, yang semua itu akan mempengaruhi nilai tukar. Pemerintah akan melihat bagaimana upaya menetralisir dan memperkuat ekonomi Indonesia,” tegasnya.
"Mudah-mudahan tidak ada surprise," ujar Darmin.
CT Tolak Trump
Sementara Pengusaha Chairul Tanjung (CT) menegaskan, sentimen pelaku pasar modal negara Paman Sam atas pilpres AS bisa terbaca dengan jelas dalam masa kampanye beberapa waktu terakhir.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengatakan, New York Stock Exchange (NYSE) sempat memerah selama delapan hari berturut-turut karena kekhawatiran Donald Trump terpilih sebagai suksesor Obama.
“Saham langsung turun di NYSE karena khawatir Trump jadi presiden,” kata CT.
Pemilik CT Corp mengamini bahwa negara-negara lain masih menjadikan AS sebagai salah satu kutub ekonomi dunia.
"Amerika hanya satu-satunya engine ekonomi dunia yang mesinnya relatif masih baik. Eropa atau Jepang belum pulih. Kesimpulannya ekonomi dunia kehilangan engine of growth-nya dan mengakibatkan dunia mengalami permasalahan pertumbuhan ekonomi," tutup CT. (gen)