Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang menjelaskan, lima provinsi yang dimaksud adalah Kepulauan Riau, Maluku Utara, Maluku, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Lima daerah ini menyusul Papua dan Kalimantan Utara yang akan menikmati BBM satu harga di penghujung 2016.
"Akhir tahun ini Kalimantan sudah bisa, dan Papua di awal 2017. Tapi secepatnya kami akan inventarisir, wilayah mana saja yang bisa dimasuki BBM satu harga. Kalau Kalimantan kan umumnya di daerah perbatasan, sedangkan Indonesia Timur biasanya berada di pulau-pulau terpencil," ujar Ahmad, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ahmad menyebut, setidaknya dibutuhkan Rp54 miliar untuk membangun APMS dan kurang dari Rp1 triliun untuk logistik dan infrastruktur, seperti tangki BBM baru di kepulauan Anambas.
"Karena bayangkan saja, kalau jualan sehari 2 ton atau 3 ton dengan margin Rp240 per liter, mungkin cuma cukup bayar gaji karyawan saja kali ya," tambahnya.
Selain itu, perusahaan juga masih mencari peluang agar BBM satu harga bisa diimplementasikan secara nasional. Untuk itu, perusahaan tengah mengkaji langkah-langkah distribusi yang efisien agar biaya logistik BBM satu harga tak membebani perusahaan.
"Kami akan menempuh jarak dan mencari cara yang paling efisien terlebih dahulu dalam menyalurkan BBM. Lewat laut pasti akan dilakukan, kemudian darat, dan pilihan terakhir tentu menggunakan pesawat," lanjutnya.