Memang, hingga saat ini, Direktur Eksekutif Gapki Fadhil Hasan bilang, belum bisa menakar dampak perdagangan sawit antara kedua negara. “Saya masih belum tahu, karena masih banyak ketidakpastian untuk perdagangan hasil sawit antara Amerikan dan Indonesia,” ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Rabu (9/11).
Ketidakpastian ini, lanjut Fadhil, terlihat dari janji atau pandangan Trump yang bisa saja berubah dari masa kampanye hingga duduk di kursi presiden.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di masa kampanye, Trump menyebutkan, akan menggenjot produksi minyak domestik di AS dan membatalkan konsentrasi pemerintah terhadap penjagaan lingkungan. Hal ini justru terbalik dengan apa yang diprioritaskan pesaingnya dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
Meski begitu, ketidakpastian terhadap realisasi nilai perdagangan antara Indonesia-AS, Fadhil menilai bahwa Amerika merupakan negara yang terbuka. Ditambah dengan ketidakpastian kebijakan yang akan diambil oleh taipan properti tersebut membuat imbas ketidakpastian semakin menguat.
Sementara itu, Gapki mencatat, ekspor hasil sawit Indonesia selama dua tahun terakhir cukup besar ke Amerika, di samping ekspor ke India, China, dan negara Uni Eropa yang tetap mengalami pertumbuhan.
Gapki menyebutkan, per Agustus 2016 lalu, total eskpor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia meningkat menjadi 1,93 juta ton akibat kenaikan permintaan dari Amerika. (bir)