Sebelumnya, Trump, dalam kampanyenya, cenderung proteksionis terkait perdagangan untuk mengembalikan kedigdayaan AS.
Hal itu tercermin dari keinginan Trump untuk merenegosiasi sejumlah perjanjian dagang AS dengan negara lain. Selain itu, Trump juga ingin menaikkan tarif impor barang dari China sebesar 45 persen dan Meksiko sebesar 35 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adhi mengungkapkan, AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor makanan dan minuman terbesar bagi Indonesia, bersama dengan China, Korea, dan Jepang.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tahun lalu ekspor makanan dan minuman ke AS mencapai US$1,14 miliar atau 8,1 persen dari total ekspor Indonesia ke AS, US$13,99 miliar. Realisasi ekspor itu melonjak 14,55 persen dalam empat tahun.
"Misalnya udang, komoditas sawit, kakao, kopi, teh, mereka (AS) tetap butuh kita," ujarnya.
Selain itu, lanjut Adhi, Trump juga tidak bisa serta merta menaikkan tarif perdagangan karena terikat aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Tidak bisa sembarangan menaikkan tarif impor, kan terikat WTO. Kecuali, untuk barang-barang yang masuk daftar sensitif dan masing-masing negara punya daftar sendiri,"jelasnya.
Sebagai informasi, Trump berhasil mengungguli Clinton dalam pilpres yang digelar pada Selasa, 8 November 2016, waktu setempat. Trump memperoleh 288 electoral votes, memenuhi syarat minimal 270 electoral votes bagi seorang calon presiden AS untuk memenangi pemilu. Sementara, Clinton hanya mampu meraup 215 electoral votes. (gir/gen)