"Kalau ekspektasi kami, masih akan menaikkan suku bunga. The Fed itu independen, tidak akan melihat situasi politik, lebih kepada dinamika ekonominya," terang Kepala Departemen Pendalaman Pasar Uang BI Nanang Hendarsah kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/11).
Nanang menilai, sistem birokrasi negara Paman Sam sudah sangat maju, sehingga tidak akan cepat berubah meskipun posisi kepala negara mengalami pergantian. Di samping itu, ia optimistis, Indonesia masih mampu meredam dampak eksternal yang ditimbulkan The Fed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI, lanjut dia, tetap membuka ruang pelonggaran moneternya dengan menurunkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo rate di penghujung tahun. Namun, keputusan tersebut masih sangat bergantung dengan data-data ekonomi, seperti inflasi, proyeksi PDB, neraca pembayaran dan stabilitas keuangan dalam negeri.
Reaksi negatif yang diberikan pasar terhadap kemenangan Donald Trump memang sempat terasa. Namun, pada perdagangan Rabu (10/11), bursa saham AS justru menghijau pada sesi pembukaan.
Prediksi bank sentral berbanding terbalik dengan ramalan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Ia justru menilai kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS akan diikuti dengan keputusan The Fed menahan kenaikan suku bunga acuannya di akhir tahun.
"Saya tak yakin The Fed berani, kalau situasi atau reaksi pasar tidak bagus," ujar Darmin kemarin. (bir/gen)