"Harga mutiara sekarang turun," kata Mulyanto, Sekretaris Jenderal Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) saat ditemui CNNIndonesia.com, di arena Indonesian Pearl Festival (IPF) di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (9/11).
"Ini sebenarnya juga karena kondisi ekonomi tengah melemah. Sepanjang tahun ini turun sekitar 10 persen," lanjut Mulyanto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menuturkan, kejadian mati massal kerang mutiara dapat disebabkan oleh beberapa sebab. Seperti perubahan suhu lautan yang semakin panas, dan derajat keasaman atau pH yang semakin asam. Mati massal kerang budidaya ini diakui Mulyanto semakin sering terjadi sejak 2010, dan memaksa para petani mutiara mulai proses budidaya dari awal.
"Budidaya mutiara ini kan di tempat terpencil, nah di situ kontrol kurang. Kalau ada operasi (untuk menjaring pelaku destructive fishing) selalu bocor," lanjut Mulyanto.
Di sisi lain, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku berupaya mendorong industri mutiara tetap bergairah terutama untuk jenis mutiara laut selatan atau south sea pearl. Jenis mutiara ini adalah komoditas unggulan dan Indonesia menjadi sentra produksi tipe mutiara ini.
Menurut data KKP yang dikutip dari Badan Pusat Statistik, Indonesia pada 2015 lalu mengekspor south sea pearl sebanyak 6,74 ton dengan nilai US$31,2 juta, sedangkan total produksi south sea pearl dunia sebesar 12 ton.
KKP juga menyebutkan selain menyumbang jumlah devisa puluhan juta dolar tersebut, industri budidaya mutiara ini juga telah menyerap 53 ribu orang tenaga kerja, 200 ahli insetor lokal, dan 50 insetor asing.
Kemudian ada mutiara air tawar dari China dengan produksi sebesar 1.500 ton per tahun. Lalu mutiara Akoya dari Jepang dan China dengan produksi 15-20 ton per tahun. Dan black pearl dari Tahiti dengan jumlah produksi 8-10 ton per tahun.
Kondisi harga mutiara diakui Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Nilanto Perbowo dipengaruhi sangat kuat oleh pasar, terutama para ahli dan peminat mutiara.
"Harga mutiara berbeda sekali dibanding komoditas perikanan dan kelautan yang lain. Ini sangat subjektif dan para ahli serta peminat mutiara yang bisa benar mengenali mutiara bisa dihargai ratusan juta, tapi bila ada cacat maka bisa jatuh. Sangat subjektif," kata Nilanto saat ditemui CNNIndonesia.com.
"Kalau Indonesia sampai bisa menentukan harga kayaknya belum bisa, mudah-mudahan bisa ke depannya. Tergantung konsumen pasar. Saat ini kami sedang berupaya branding south sea pearl,” lanjutnya.