Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan, saat ini terdapat 1.800 BPR yang beroperasi di Indonesia. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan bank umum yang hanya 118 bank. Alhasil, kesempatan untuk terjadinya fraud lebih terbuka di BPR.
"Tindak pidana perbankan kebanyakan terjadi di BPR. Sekitar 80 persen BPR itu ditutup karena fraud," ujar Nelson pada acara acara Sosialisasi Penanganan Dugaan Tindak Pidana Perbankan dan Forum Anti Fraud, Senin (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"BPR-BPR ini, karena lokasi yang jauh dan tersebar tadi, serta size-nya juga kecil tetap dilakukan pemeriksaan sekali setahun, cuma mungkin di dalam pengawasan itu tidak sesimultan kayak bank-bank umum, kira-kira begitulah. Jadi kemungkinan terjadinya fraud di BPR itu jadinya lebih tinggi," ujar Nelson.
Nelson menyatakan, tindak pidana yang paling banyak ditangani oleh OJK ialah kasus kredit dengan persentase 55 persen, sedangkan rekayasa pencatatan 21 persen, penggelapan dana 15 persen, transfer dana lima persen, dan pengadaan aset empat persen.
"Sebenarnya garda utama itu harus dari internal banknya, garda utama dan kedua itu internal, ketiga baru pengawas. Jadi pengawasan dari internalnya harus ditingkatkan," terang Nelson. (ags)