Thomas mewaspadai wacana penerapan kebijakan ekonomi proteksionisme yang akan dianut oleh Trump. Rencana Trump untuk menaikkan tarif impor dan memutus tali perdagangan yang selama ini terjalin berpotensi mengerutkan volume perdagangan gloobal.
Tak hanya itu, mantan manajer investasi itu juga mewaspadai wacana diberlakukannya program pengampunan pajak yang akan dilakukan oleh taipan properti itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang ini lucu, banyak orang yang memprediksi Donald Trump akan meniru Presiden Jokowi dalam tax amnesty. Tapi itu mungkin saja terjadi karena banyak perusahaan AS yang menyimpan uangnya hingga US$2 triliun di luar khususnya Eropa, kalau itu terjadi bisa terjadi repatriasi besar-besaran dari Eropa dan AS, itu salah satu contoh yang harus kita waspadai," ujar Thomas dalam DBS Economic Outlook, Kamis (17/11).
"Dunia saat ini tengah jungkir balik. Negara-negara maju yang biasa berbicara rasional justru sekarang, mohon maaf, jadi sedikit ngawur," katanya.
"Untuk sementara sejauh ini tidak ada revisi untuk target investasi baik untuk tahun ini, tahun depan serta tahun berikutnya. Hemat saya perkembangan seperti itu tidak menjadi alasan untuk kita bekerja atau tidak berkinerja," ujarnya. (gir)