"Kebijakan tersebut sejalan dengan kehati-hatian BI dalam merespon meningkatnya ketidakpastian global pasca pemilu AS di tengah stabilitas ekonomi dalam negeri yang tetap terjaga yang tercermin dari inflasi yang rendah dan defisit neraca transaksi pembayaran yang terkendali," ujar Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo dalam konferensi pers, Kamis (16/11).
Agus menyebutkan keputusan tersebut dikeluarkan dengan mempertimbangkan pemulihan ekonomi global yang diperkirakan masih berlangsung lambat. Namun yang positif, harga akomoditas global menguat di tengah ketidakpastian tersebut pasca menangnya Donald Trump atas Hillary Clinton.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa cenderung masih terbiasa dan dibayangi risiko politik, sementara di emerging market seperti India dan China diperkirakan masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi global.
Dari dalam negeri, sentimen ekonomi domestik yang baik mendorong BI untuk mempertahankan kebijkannya, Hal ini ditandai oleh kestabilan nilai tukar rupiah sepanjang tahun meski sempat melorot pada sesi perdagangan pasca pengumuman kemenangan Donald Trump.
Meski begitu tekanan depresiasi yang terjadi di rupiah relatif terbatas dibanding mata uang emerging market lainnya.
"BI akan tetap lakukan stabilisasi kurs rupiah sesuai fundamental dengan tetap jaga mekanisme pasar. Kami anggap pelonggaran moneter dan makro prudensial sebelumnya bisa menjaga momentum pertumbuhan kami akan terus perkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga kecukupan likuiditas," ujar Agus. (gir)