Kondisi serupa juga pernah ia rasakan ketika tahun 2012 lalu dimana dirinya maju menjadi Gubernur DKI Jakarta. Dalam mendinginkan situasi yang panas tersebut, Jokowi pun harus rela melakukan sesuatu yang di luar kebiasaannya, seperti naik kuda.
Aksi naik kuda tersebut ia harus lakukan ketika mengunjungi kediaman mantan rivalnya dalam perebutan kursi RI 1 Prabowo Subianto.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi politik yang panas tersebut menurutnya jangan sampai membuat Indonesia mengabaikan isu perekonomian baik dalam maupun luar negeri.
"Kita lihat pada saat pilpres AS, presiden terpilih Donald Trump dipastikan menang semua orang kaget. Kalau saya ya biasa saja, kekagetan itu kata orang menyebabkan ketidakpastian. Kalau saya tidak," ujarnya.
Jokowi mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi terlalu banyak atas keadaan yang telah terjadi. Ia bahkan memuji taipan properti tersebut sebagi pengusaha handal dengan penciuman bisnis yang kuat sehingga ia tidak yakin Trump akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan perekonomian negaranya.
"Banyak orang bilang Donald Trump menjadi proteksionis, bunga bank Fed Fund rate dilonjakan sangat tinggi. Saya kira tidak seperti yang dibayangkan."
"Dia [Donald Trump] mempunyai penciuman bisnis dan ekonomi yang tajam. Tidak mungkin melakukan apa yang dibayangkan, saya meyakini yang bakan dilakukan adalah hal-hal yang baik baik AS maupun dunia," ujarnya.
"Kenapa kita begitu pesimistis? Kenapa kita tidak sangat optimistis menuju ke depan?."
"Sebetulnya tidak ada yang perlu pesimis, inflasi 3,35 persen tahun ini mungkin 3,3 persen sangat terjaga sekali. Defisit transaksi berjalan juga masih dalam posisi dikendalikan dengan baik," ujarnya. (gir)