“Kalau batal, tidak ada pengaruhnya ke kita. Kalau TPP itu diteruskan, berarti kita ikut. Tetapi kalau tidak, ya kita seperti biasa saja,” ujar Jokowi, Kamis (24/11)
Hal tersebut diamini Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang menilai, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) gagasan China bakal menjadi alternatif jika TPP kandas sebelum dimulai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enggar juga memastikan jika memang TPP dihentikan, maka negara yang tergabung di dalamnya pasti mencari alternatif lain. Seperti diketahui, ada 11 negara selain AS yang sudah menjadi anggota TPP yakni Australia, Brunei, Kanada, Chile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam.
Ia menjelaskan, rencana Indonesia untuk masuk dalam TPP pun sebenarnya masih dalam tahap kajian. Namun, kajian tersebut akan dilakukan secara komprehensif. Bukan hanya dari sisi untung dan rugi jika masuk TPP, tetapi juga melihat pasar perdagangan bebas lainnya.
"Apa yang sekarang kami lihat adalah dari sisi, kalau tidak dengan TPP, ajakan-ajakan lain seperti apa, misalnya ada dua hal sekaligus yang menjadi perhatian kami, selain TPP ada Brexit," papar Enggar.
"Di kawasan Asia misalnya Vietnam dan Malaysia akan mendapatkan kemudahan akses, dan perubahan di AS akan mempengaruhi Asia yang seperti Jepang, Malaysia, dan Vietnam," ungkap Sri Mulyani.
Lebih lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia menjelaskan, Presiden Jokowi masih menginginkan Indonesia masuk dalam TPP. Menurut Sri Mulyani, atasannya tersebut yakin Indonesia mampu mengoptimalkan pasar ekspor ke berbagai negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
"Bapak Presiden juga mengatakan Indonesia sangat mampu untuk bisa optimalisasi dari destinasi pasar ekspor yang selama ini pertumbuhan ekonomi tinggi seperti Bangladesh. Mereka butuh barang kecil akan sangat penting, maka itu kita perlu konektivitas," papar Sri Mulyani. (gen)