Chief Economist and Investment Strategist MAMI Katarina Setiawan menjelaskan, kenaikan tingkat suku bunga Amerika Serikat (AS) oleh The Federal Reserve yang diprediksi dilakukan pada 15 Desember ini memang telah memicu penguatan mata uang dolar dan mendorong dana investor asing untuk keluar dari Indonesia.
Lebih lanjut Katarina menjelaskan, kondisi tersebut dikhawatirkan mengganggu stabilitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, membaiknya defisit neraca berjalan yang disertai dengan kecukupan cadangan devisa di atas rata-rata delapan bulan impor, membuat Indonesia terlihat cukup kokoh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepakat dengan Katarina, Direktur Investasi MAMI Alvin Pattisahusiwa menjelaskan, tahun 2017 diprediksi menjadi tahun pertumbuhan bagi Indonesia. Sehingga, ia menyarankan agar investor untuk berinvestasi pada tahun depan sesuai dengan tujuan resiko masing-masing investor. Hal ini juga sejalan dengan membaiknya kondisi pasar saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan surat utang (obligasi).
Tak hanya itu, dana dari kebijakan amnesti pajak juga dapat menjadi salah satu indikator pertumbuhan ekonomi tahun depan. Melalui kebijakan tersebut, maka otomatis penerimaan pajak negara dan memperbesar basis data wajib pajak (WP).
"Perbaikan ekonomi yang didukung oleh kebijakan pro pertumbuhan dari pemerintah dan Bank Indonesia memberikan peluang bagi investasi di reksa dana saham dan pendapatan tetap. Kedua jenis reksa dana ini berpotensi memberikan imbal hasil yang atraktif," pungkas dia.
Dengan perbaikan ekonomi tersebut, Director of Business Development MAMI Putut Endro Andanawarih menyarankan agar investor menyusun ulang portofolionya untuk disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko.
Menurutnya, investor yang menginginkan investasi jangka panjang dan imbal hasil tinggi dapat berinvestasi dalam reksa dana saham, sedangkan bagi investor yang berniat investasi dalam jangka menengah sebaiknya berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap yang berbasis obligasi.
"Bagi investor yang menginginkan tingkat likuiditas yang tinggi tapi menginginkan hasil investasi di atas deposito, dapat memanfaatkan reksa dana pasar uang," tutup dia.