Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan, tergerusnya cadangan devisa bulan lalu akibat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang sempat tertekan. Sebagai pengingat, pasca kemenangan Donald J Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) pada 8 November lalu, nilai tukar rupiah terperosok hingga menyentuh level Rp13.800 per dolar AS.
"Ya, kan kami lakukan stabilisasi untuk negeri ini. Pada saat inflows (modal masuk) banyak kita serap. Pada waktu goyang, kita pakai," ujarnya saat ditemui di Hotel JW Marriot, Rabu (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun menurun, posisi cadangan devisa hingga akhir November 2016 tersebut cukup untuk membiayai 8,5 bulan impor atau 8,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tutur Arbonas melalui keterangan tertulis.
BI memperkirakan bahwa penurunan cadangan devisa bersifat temporer, terutama didukung oleh optimisme terhadap perekonomian domestik yang tetap positif, kinerja ekspor yang membaik, serta perkembangan kondisi pasar keuangan global yang kembali kondusif.
"BI akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," imbuh Arbonas. (bir/gen)