Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menjelaskan, peningkatan ekspor tersebut digerakkan oleh dua komoditas utama, yaitu kelapa sawit dan batu bara. Menurut data yang dimilikinya, terjadi peningkatan ekspor golongan minyak dan lemak hewan nabati senilai US$366,1 juta dan bahan bakar mineral sebesar US$141,6 juta antara bulan Oktober dan November.
Dengan kata lain, 67,7 persen dari total kenaikan ekspor sebesar US$750 juta antara dua periode tersebut disumbang oleh dua komoditas tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menjelaskan, melonjaknya ekspor CPO ini dikarenakan volume yang meningkat menjelang akhir tahun. Menurutnya, ini merupakan perbaikan apabila dibandingkan pertengahan tahun lalu, di mana ekspor kelapa sawit sempat turun gara-gara musim yang tidak baik.
"Tapi meski volume ekspor CPO meningkat, harganya malah cenderung melemah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tapi tetap saja, kontribusi ini menyumbang peningkatan tertinggi untuk ekspor, yang artinya memang ekspor kita masih sangat bergantung pada dua komoditas ini," ujarnya.
Akibat perbaikan kondisi di kelapa sawit dan batu bara, hal ini menyebabkan pertumbuhan ekspor sebesar 21,34 persen secara tahunan (year on year) dibanding periode yang sama tahun lalu US$11,12 miliar. Menurut Sasmito, angka ini adalah pertumbuhan year-on-year tertinggi setidaknya dalam enam tahun terakhir.
"Pertumbuhan yang tinggi ini adalah hal yang menyegarkan. Namun di masa depan, seharusnya ekspor Indonesia sudah mulai bergeser ke arah barang yang memiliki nilai tambah. Di samping itu, mungkin tak hanya ekspor barang, tapi Indonesia juga harus bisa ekspor jasa," pungkas Sasmito.
Sebagai informasi, ekspor pada bulan November 2016 tercatat sebesar US$13,5 miliar dengan impor sebesar US$12,66 miliar. Dengan kata lain, terjadi surplus perdagangan sebesar US$837,8 miliar sepanjang periode tersebut.
Sementara itu, nilai ekspor Indonesia sepanjang tahun kalender 2016 (year to date/ytd) tercatat US$130,65 miliar dengan impor sebesar US$122,85 miliar. Sehingga sampai sejauh ini, Indonesia mengalami surplus US$7,79 miliar. (gen)