Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo mengatakan, keterlambatan ini disebabkan belum rampungnya sejumlah proses administrasi antara kementerian BUMN dan Himbara dengan Bank Indonesia (BI).
"Tadinya mau rampung Desember ini, tapi administrasi belum selesai. Administrasinya perlu dikoordinasikan dengan BI," ungkap Gatot, Senin (19/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan untuk tarif transaksi antar bank Himbara, Gatot memastikan, para nasabah akan dapat melakukan penarikan tunai tanpa biaya atau gratis di seluruh ATM perusahaan switching.
"Iya itu termasuk direksi di PT baru, baik dari Telkom dan perbankan belum ada. Februari nanti selesai," imbuh Gatot.
Sementara itu, saat ini, ATM bank-bank BUMN yang terhimpun dalam Himbara telah berjumlah sebanyak 2.650 unit ATM dan ditargetkan akan bertambah hingga 10 ribu unit ATM di tahun 2017.
"Tahun depan 10 ribu unit, sistemnya sudah di tahun ini, tinggal (pergantian) casing ATM-nya saja," jelas Gatot.
Kemudian, untuk mesin EDC, Himbara telah menyebarkan sekitar 2.400 unit dari total target sebayak tiga ribu unit mesin EDC yang tersebar di tempat-tempat umum sekitar Pulau Jawa.
Sebagai informasi, bank-bank BUMN yang tergabung dalam Himbara, yakni PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BRI, dan PT Bank Tabungan Negara Tbk atau BTN berencana membentuk perusahaan switching untuk memangkas tarif pengalihan dan penghubung transaksi ATM antar bank BUMN.
Oleh karena itu, Himbara berupaya membentuk perusahaan switching sendiri untuk memangkas tarif pengalihan dan penghubung transaksi ATM antar bank tersebut.
Untuk diketahui, saat ini, transaksi ATM antar bank BUMN sebesar Rp2.500 per transaksi. Sementara dengan perusahaan switching diharapkan tarif ini dapat dipangkas. (gir)