Presiden Direktur Pefindo Salyadi Saputra menjelaskan, sejak tahun 2008, jumlah pemeringkatan penerbitan obligasi korporasi melalui Pefindo tak pernah tembus Rp100 triliun.
Ia merinci, mandat pemeringkatan obligasi korporasi tersebut mayoritas berasal dari sektor perbankan yaitu, Rp46,57 triliun. Kemudian, penerbitan obligasi dari perusahaan pembiayaan menyusul sebesar Rp35,85 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya tahun ini, sektor perbankan dan perusahaan pembiayaan nyatanya telah menjadi penyumbang pemeringkatan penerbitan obligasi terbanyak melalui Pefindo sejak tahun 2010. Pada tahun 2015 sendiri, jumlah obligasi korporasi perbankan yang dikeluarkan sebesar Rp20,17 triliun dan perusahaan pembiayaan sebesar Rp23,73 triliun.
"Kami lihat memang keuangan bank dan pembiayaan dominan, tahun ini 79,12 persen dari institusi keuangan, dan hanya 20,88 persen yang sektor riil atau non institusi keuangan, ini tantangan," ungkap Salyadi, Selasa (20/12).
Menurut Salyadi, hal ini menunjukkan peran pasar modal sebagai perantara belum dimanfaatkan secara signifikan oleh perusahaan yang bergerak di sektor riil. Namun, dengan bertumbuhnya berbagai proyek infrastruktur yang telah dimulai tahun ini, maka Salyadi memprediksi adanya pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi dari sektor konstruksi tahun depan.
"Saya rasa akan banyak, tapi memang belum terlihat, hanya yang berbicara informal sudah banyak. Tapi begini maksud saya, dari segi persentase tetap kecil, jumlah yang diterbitkan tapi penerbitnya naik terus," ungkap dia.
Sekadar informasi, sektor perbankan berkontribusi ke mandat pemeringkatan obligasi sebesar 44,7 persen, pembiayaan 34,4 persen, properti 1,9 persen, bandara 4,8 persen, pertambangan 2,4 persen, telekomunikasi 4,3 persen, dan konstruksi 3,6 persen. (gir/gen)