Namun, Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman belum mau merinci secara detil ihwal nama perusahaan yang akan bermitra dengannya. Pasalnya, kedua perusahaan masih dalam tahap negosiasi. Bahkan, hingga kini belum menyepakati kewajiban pendanaan (financial closing). Yang pasti, dalam proyek ini, Antam akan mendapatkan kepemilikan minoritas.
"Kami akan umumkan secepatnya kalau akan dimulai, apabila sudah ada financial closing. Rencananya, proyek ini sudah bisa dimulai pertengahan tahun depan," ujarnya, Rabu (21/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tedy, pabrik ini akan mengolah bijih nikel menjadi Nickel Pig Iron (NPI) dengan kapasitas produksi 80 ribu ton. Selain itu, pabrik ini juga mengolah ore nikel dengan kadar 1,2 persen - 1,7 persen, sesuai dengan keinginan perusahaan untuk mengutilisasi nikel kadar rendah.
Di samping itu, ia menjelaskan, pabrik blast furnace ini bukan bagian dari pembangunan pabrik feronikel berkapasitas 27 ribu ton nikel dalam feronikel (TNi), meskipun berada di lokasi yang sama. Untuk melengkapi proyek pemurnian di Halmahera Timur, perseroan juga berencana membuat pabrik baja tahan karat (stainless steel) dengan kapasitas 40 ribu ton per tahun.
"Fokus kami sekarang sedang bergerak ke Tanjung Buli, Maluku Utara, karena cadangan kami di sana cukup menjanjikan. Kami akan cari jalan, pemurnian di sana bisa sampai stainless steel," terang Tedy.
Selain Tanjung Buli, perusahaan tambang pelat merah ini juga memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dan Tapunopaka, Sulawesi Selatan. Cadangan nikel Antam tercatat sebesar 361,3 juta wet metric tons (wmt) nikel berkadar tinggi (saprolite) dan 464 juta wmt nikel berkadar rendah (limonite).
Sementara, hingga kuartal III 2016, produksi nikel saprolite dan limonite perusahaan mencapai 1,1 juta wmt. Angka ini meningkat 99,77 persen apabila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya 432,47 ribu wmt. (bir/gen)