Kepala Bagian Hubungan Masyarakat SKK Migas Taslim Yunus menyebut, mundurnya jadwal PoD blok Kasuri terhambat masalah komersialisasi gas yang akan diproduksi. Pasalnya, sampai hari ini belum ada kontrak Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang dibuat Genting Oil dengan calon pembeli.
Taslim menjelaskan jika tidak bisa menunjukkan daftar calon pembeli gas, maka pemerintah belum bisa menyetujui PoD blok Kasuri karena nilai keekonomian proyeknya belum jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awalnya, SKK Migas memberikan opsi bagi Genting Oil untuk memasok sementara calon pabrik PT Pupuk Indonesia (Persero) di Teluk Bintuni sebelum gas dari Tangguh Train 3 yang dikelola BP Berau Ltd memasok pabrik tersebut.
"Tangguh itu punya kewajiban dua tahun memasok ke pabrik pupuk setelah Tangguh Train 3 berproduksi. Namun, Pupuk Indonesia saja paling cepat 2022 (beroperasinya)," tambahnya.
Selain itu, Taslim menyebut bahwa masalah harga gas juga menjadi penghambat komersialisasi gas Blok Kasuri. Padahal, calon investor Teluk Bintuni seperti LG Chemical dan Ferrostaal GmbH sangat tertarik dengan gas Genting Oil.
Ia mengatakan, harga gas keekonomian dari blok Kasuri mencapai US$6 per MMBTU. Sementara, kedua perusahaan itu membutuhkan gas lebih murah dari harga yang ditawarkan.
"Genting Oil sih bilang terserah mau masuk petrokimia atau FLNG, yang penting komersialisasi jalan. Jadi lebih welcome, yang penting duitnya oke," terang Taslim.
Sebagai informasi, produksi blok Kasuri diprediksi bisa mencapai 285 MMSCFD dan bisa onstream di tahun 2019. Perusahaan asal Malaysia tersebut sebelumnya telah melakukan kegiatan eksplorasi pengeboran di 10 sumur di Lapangan Merah, Lapangan Asap, dan Lapangan Kido.