Direktur Utama Pos Indonesia Gilarsih Wahju Setijono mengatakan, pengembangan TI ditujukan untuk memanfaatkan industri e-commerce yang berkembang dua tahun terakhir ini.
Ia menjelaskan, penetrasi dari industri e-commerce saat ini baru 1 persen hingga 1,5 persen dari ritel ekonomi. Angka itu terpaut jauh jika dibandingkan dengan China yang sudah mencapai 12,4 persen dari ritel ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Gilarsih, sebagai fasilitator dalam bidang logistik, manajemen membutuhkan investasi dalam membangun kompetensi untuk masuk ke e-commerce. Ia menghitung, perseroannya bahkan membutuhkan Rp15 triliun hingga Rp20 triliun hingga tahun 2025 untuk menjadi tulang punggung logistik nasional dengan mengembangkan TI.
Namun, jumlah tersebut nyatanya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan modal yang dibutuhkan perseroan untuk tahun depan. Makanya, Pos Indonesia kemungkinan besar juga akan melakukan peminjaman melalui bank mitra untuk menutupi kekurangannya.
"Jadi, apapun yang tidak relevan kami potong dulu lah. Nanti, kami juga cari dari macam-macam, pinjam bank atau melepas obligasi. Tapi melepas obligasi juga butuh waktu ya," terang dia.
Selain berinvestasi dalam hal teknologi, perusahaan logistik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini juga akan menambah ritel baru. Hanya saja, perseroan masih belum memiliki rencana yang matang untuk itu.