Kredit modal kerja tercatat tumbuh hanya 7,34 persen, sedangkan kredit konsumsi naik 7,39 persen. Namun demikian, dari sisi nilai, kredit modal kerja dan kredit investasi masih mendominasi dengan jumlah kredit mengalir masing-masing Rp1.990 triliun, dan Rp1.186 triliun.
"Jadi, kredit investasi justru tumbuh paling tinggi," ujar Muliaman D Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, Jumat (30/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat di beberapa daerah, apakah pembangunan itu untuk keperluan pembangunan proyek-proyek Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan lain sebagainya tetapi mulai cukup baik," katanya.
Secara umum, kredit perbankan per November 2016 tumbuh 8,46 persen menjadi Rp4.285 triliun atau melambat dari pencapaian periode sama tahun lalu, yaitu Rp9,8 triliun.
Adapun, kredit rupiah mendominasi pertumbuhan kredit dengan pertumbuhan 9,41 persen di angka Rp3.643 triliun. Sementara, kredit valas cuma tumbuh 3,35 persen menjadi Rp642 triliun.
Dari sisi sektor usaha, tiga sektor yang pertumbuhan kreditnya tinggi adalah sektor listrik sebesar 40,17 persen menjadi Rp133 triliun, sektor konstruksi 21,41 persen menjadi Rp210 triliun, sektor pertanian sebesar 16,67 persen menjadi Rp279 triliun.
Sementara, pertumbuhan kredit ke sektor pertambangan minus 3,44 persen menjadi Rp128 triliun. Hal sama juga terjadi pada kredit ke sektor transportasi yang hanya tersalurkan Rp165 triliun atau minus 4,4 persen. (bir/gen)