"Saya melihat catatan ada beberapa helai pencapaian yang membanggakan tapi selain membaca berita bagus, kita juga harus berani membaca berita tidak bagusnya," ungkap Darmin saat menutup perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (30/12).
Menurut catatannya, ada dua pekerjaan rumah untuk pasar modal Indonesia. Pertama, jumlah perusahaan yang menawarkan saham ke publik (Initial Public Offering/IPO) yang belum sesuai target di tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, keikutsertaan investor dan emiten yang belum tersebar dengan merata di Indonesia. Pasalnya, saat ini, investor dan emiten di pasar modal Indonesia masih terpusat di Ibukota DKI Jakarta saja.
"Kita harus bentuk akses bahkan menjemput bola untuk menawarkan dan mendorong saudara kita di daerah untuk menjadi investor, bukan hanya sebagai emiten," imbuh Darmin.
Capaian ini meningkat sekitar 15,32 persen secara tahun berjalan (year to date/ytd) bila dibandingkan tahun lalu yang ditutup di level 4.953,008.
Menurut data BEI, penutupan perdagangan saham hari ini tercatat sebagai kinerja terbaik nomor dua di kawasan Asia Pasifik.
"Saya kira apa yang kita capai di tengah perekonomian yang penuh kejutan dan menimbulkan banyak kekhawatiran merupakan hal yang membanggakan," sambut Darmin sambil tersenyum.
Selain itu, capaian surat utang korporasi memiliki nilai kapitalisasi yang menembus angka Rp113 triliun dan surat utang negara mencapai Rp470 triliun. (gen)