Chief Economist DBS Group Research David Carbon menyatakan, proyeksi ekonomi Negeri Paman Sam yang membaik tak pelak membuat nilai tukar dolar AS menguat.
Menurutnya, penguatan ini sama sekali berbeda dengan yang terjadi pada 2013-2015 lalu, yang disebabkan oleh kebijakan quantitative easing (QE) yang dilakukan untuk melemahkan mata uang yen dan euro.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun bank sentral Amerika Serikat the Federal Reserve diperkirakan menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 1,75 persen pada akhir 2017. Implikasinya, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun juga akan meningkat signifikan.
Di Asia Tenggara, kenaikan suku bunga the Fed, dolar AS, serta proyeksi inflasi akan menambah ketidakpastian rencana investasi. Dengan demikian, David menilai penguatan pasar domestik perlu ditingkatkan, terutama investasi pemerintah dan belanja rumah tangga sebagai andalan penggerak ekonomi.
Namun risiko eksternal, dari kenaikan suku bunga the Fed, tetap perlu diperhatikan karena akan memperlemah nilai tukar rupiah. Menurut ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi, ekonomi Indonesia 2017 diprediksi tumbuh ke 5,3 persen dari perkiraan akhir tahun lalu yang sebesar 5,1 persen.
Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pun dinilai akan mampu mengendalikan defisit kembar. Program amnesti pajak, dapat menekan defisit fiskal hingga 2,5 persen. Sementara defisit neraca transaksi berjalan diprediksi berada di kisaran 2,1 persen terhadap PDB.
“BI telah lebih aktif dalam mengendalikan volatilitas di pasar uang,” kata Gundy. (gir)