Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja mengungkapkan, ini merupakan implementasi dari pelaksanaan distribusi tertutup elpiji bersubsidi yang dijadwalkan pada tahun ini.
Ia menjelaskan, nantinya setiap penerima kartu berhak menerima jatah tiga tabung per bulan. Sementara, pelaku usaha kecil dan menengah UKM) mendapatkan jatah sembilan tabung elpiji per bulan. Namun demikian, kartu ini tak hanya digunakan untuk membeli elpiji, namun juga membeli kebutuhan pokok lain, seperti beras.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lokasi pertama sedang kami bahas. Sedang lihat lokasi mana yang paling siap. Kami intens berdiskusi dengan Kemensos," tutur Wiratmaja.
Wiratmaja menuturkan, saat ini, Kementerian ESDM tengah mengevaluasi pilot project (proyek percontohan) subsidi elpiji tertutup di Tarakan, Kalimantan Utara. Proyek ini sudah diuji coba sejak akhir tahun lalu.
Jika sukses, maka pembelian tabung elpiji bersubsidi dengan skema langsung ini segera dimulai pada Maret atau April mendatang, sesuai dengan target awal Kementerian ESDM.
"Dan, nanti sebarannya pun sesuai dengan data yang kami miliki yang dikombinasikan dengan data Kemensos," terangnya.
Menurut data Kementerian ESDM, tabung epliji 3 kg sudah didistribusikan kepada 57 juta rumah tangga. Namun, sesuai data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) hanya 25,7 juta keluarga di antaranya yang terbilang pantas mendapatkan elpiji bersubsidi.
Itu berarti, akan ada 31,3 juta KK yang tidak bisa mendapatkan elpiji bersubsidi di tahun ini. Sebagai informasi, volume elpiji bersubsidi di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017 dipatok sebesar 7,09 juta ton. Angka itu lebih besar dibandingkan APBNP 2016 sebesar 6,25 juta ton. (bir/gen)