"Tahun lalu, sekitar 10 persen-11 persen. Pada 2017, kami optimistis, bisa tumbuh 13 persen," ujar Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo, akhir pekan lalu.
Sebagai strategi, bank pelat merah tersebut akan menggerakkan kredit/pembiayaan infrastruktur sebagai mesin utama pertumbuhan kredit. Selanjutnya, perseroan juga mengincar pertumbuhan kredit konsumer melalui kredit ritel, seperti kredit pemilikan rumah (KPR).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komersial kami memang fokusnya restrukturisasi dan collection demi melakukan recovery (pemulihan). Ini dari siklus tahun lalu, ada account-account (rekening) yang kami tangani masuk collection. Ada yang melalui proses normal, ada juga yang melalui proses hukum," tegas Kartika.
Sekadar informasi, Bank Mandiri mengklaim tengah menempuh jalur hukum untuk menyeret debiturnya yang nakal dan tidak kooperatif dalam menyelesaikan kredit bermasalah.
Adapaun, dari sisi likuiditas, Kartika mengaku, bersyukur program pengampunan pajak yang bergulir mampu melonggarkan likuditas perseroan. Hingga akhir periode II amnesti pajak pada 31 Desember 2016 lalu, perseroan menghimpun dana repatriasi sebesar Rp23 triliun.
Dari nilai tersebut, posisi dana repatriasi ditempatkan dalam bentuk produk perbankan, seperti tabungan dan deposito yang mencapai 53 persen. Sedangkan sisanya ditaruh ke dalam keranjang investasi lainnya, seperti obligasi, sukuk, reksa dana, hingga asuransi.
Kondisi likuiditas yang baik itu memberikan celah bagi perseroan untuk bisa menurunkan biaya dana yang berpangkal pada penurunan bunga kredit untuk nasabah.
"Dana Pihak Ketiga (DPK) bertumbuh cukup besar tahun lalu. Yaitu, sekitar 12 persen. Jadi, likuiditas akhir tahun kami justru longgar, industri juga rasanya longgar," kata Kartika. (bir)