Kendati harga batu bara anjlok di awal tahun, angka ini dinilai masih lebih baik ketimbang periode yang sama dalam tiga tahun terakhir. Pada Januari 2014, harga batu bara acuan tercatat US$81,9 per metrik ton. Angka ini kemudian menurun ke angka US$63,84 per metrik ton pada Januari 2015 dan melemah kembali ke angka US$53,25 per metrik ton pada Januari 2016.
Deputi Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, setidaknya ada dua sentimen yang mengakibatkan harga batu bara anjlok hingga dua digit dalam kurun satu bulan. Pertama, produsen batu bara di China mulai meningkatkan produksinya kembali. Kedua, lanjutnya, adalah kebijakan China untuk menurunkan pajak impor batu bara dari Australia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut ia menuturkan, penurunan harga ini sebelumnya sudah diprediksi produsen batu bara. Untuk itu, ia yakin harga batu bara acuan akan kembali menurun pada Februari mendatang.
"Kemungkinan harga bisa saja turun, tapi tidak serendah rata-rata tahun lalu. Ini fluktuatif saja," imbuh Hendra.
Sepanjang tahun lalu, harga batu bara sempat mencapai titik terendah selama lima tahun, yakni US$50,92 per ton pada Februari. Namun, harga kembali melonjak 99,7 persen hanya dalam waktu sembilan bulan dan mencapai titik tertinggi selama empat tahun terakhir di angka US$101,69 per metrik ton pada Desember 2016 lalu. (bir/gen)