Penguatan mata uang dolar AS dan keraguan akan pemangkasan produksi organisasi negara-negara pengekspor minyak mentah (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) menjadi penyebab utama pelemahan tersebut.
Dikutip dari Reuters, Arab Saudi dan anggota OPEC lainnya terlihat akan memangkas produksi. Namun, masih belum jelas apakah produsen minyak lain akan mengikuti jejak negara Arab tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, meningkatnya nilai tukar dolar AS juga menekan harga minyak yang dibanderol menggunakan denominasi mata uang tersebut.
Harga tak bergerak banyak setelah data American Petroleum Institute (API) mengatakan terdapat tambahan persediaan minyak sebesar 1,5 juta barel pada pekan lalu. Angka ini lebih besar dari prediksi analis, di mana persediaan minyak diperkirakan bertambah 1,2 juta barel.
Selain itu, Energy Information Administration (EIA) AS meningkatkan prediksi pertumbuhan produksi minyak di tahun 2017 sebesar 110 ribu barel per hari (bph). Padahal, institusi ini meramal adanya penurunan produksi sebesar 80 ribu bph untuk tahun ini.