Jika pekan sebelumnya indeks sektor barang dan konsumsi berhasil menjadi primadona, pekan lalu sektor tersebut tercatat turun paling dalam jika dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya. Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektor barang dan konsumsi mengalami pelemahan hingga 2,34 persen ke level 2.338,45 dari pekan sebelumnya sebesar 2.394,53.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Heldy Arifien menyatakan, penggerak dari sektor barang dan konsumsi sendiri yakni, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Sementara, harga saham Unilever sendiri sudah terlalu mahal, sehingga banyak pelaku pasar yang melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap saham tersebut sepanjang pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Harganya yang sudah mahal sehingga mempengaruhi pelaku pasar tidak masuk ke Unilever. Lalu ini juga sebenarnya wajar, harga mahal jadi masuk area koreksi, fase koreksi secara teknikal saja,” ungkap Heldy saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (16/1).
Dengan turunnya harga saham Unilever tersebut, Heldy menilai saham Unilever akan kembali menjadi saham pilihan untuk pekan ini. Pelaku pasar akan kembali tertarik melakukan perdagangan dan masuk ke Unilever.
“Sektor barang dan konsumsi, khususnya Unilever Indonesia ini mungkin untuk pekan ini bisa jadi penahan pelemahan IHSG yang diprediksi masih terjadi,” jelas Heldy.
Adapun, ada delapan sektor lainnya yang juga berada di zona merah sepanjang pekan lalu yakni, tambang 0,3 persen, industri dasar 1,41 persen, aneka industri 1,83 persen, properti 0,61 persen, infrastruktur 1,53 persen, keuangan 1,05 persen, perdagangan 1,54 persen, dan manufaktur 2,07 persen. Sementara, sektor agrikultur berhasil melaju positif dengan kenaikan 2,44 persen. (gen)