Secara lebih rinci, angka tersebut terdiri dari ekspor minyak dan gas bumi (migas) sebesar US$1,23 miliar dan ekspor non-migas sebesar US$12,54 miliar. Total ekspor bulan Desember ini tercatat sebagai angka tertinggi sejak Januari 2015 silam.
Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Yang pertama, kenaikan ekspor migas dari US$1,1 miliar ke angka US$1,23 miliar disebabkan oleh kenaikan volume 9,75 persen dan juga membaiknya harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), angka ICP bulan Desember mencapai US$51,09 per barel, atau meningkat US$7,83 per barel dibandingkan bulan sebelumnya US$43,25 per barel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Akibat kenaikan harga beberapa komoditas, maka nilai ekspor non-migas di pasar internasional juga membaik. Nilai eskpor Indonesia naik 1,13 persen," ujar Suhariyanto di kantornya, Senin (16/1).
Suhariyanto mengatakan, masih lemahnya ekspor Indonesia di tahun ini dikarenakan oleh melemahnya beberapa harga komoditas, seperti kopi, lada hitam, putih, kakao, rumput laut, dan tanaman obat. Kondisi itu diperparah dengan permintaan global yang tak kunjung membaik, sehingga volume ekspor Indonesia masih belum bisa bangkit.
"Pelemahan ekonomi secara internasional itu tentu berdampak sekali ke permintaan barang-barang dari Indonesia. Melihat kondisi seperti ini, kami rasa perekonomian dunia tahun 2016 belum pulih sepenuhnya," jelas Suhariyanto.
Lebih lanjut, ia merinci beberapa sektor yang diharapkan bisa berkontribusi lebih baik kepada ekspor di tahun 2017. Sektor-sektor tersebut antara lain terdiri dari migas, pertanian, dan pertambangan.
Melihat hal ini, ia berpendapat bahwa pemerintah seharusnya meningkatkan produksi bahan pertanian dan menyalurkannya untuk bahan baku industri pengolahan makanan. "Pertanian bisa produksi lebih tinggi, dan bisa mendapatkan nilai tambah jika itu disalurkan ke industri pengolahan," jelasnya.
Sebagai informasi, impor sepanjang tahun 2016 tercatat sebesar US$116,92 miliar. Dengan demikian, surplus perdagangan pada tahun 2016 tercatat sebesar US$8,78 miliar. Surplus ini terbilang lebih tinggi 14,47 persen dibanding tahun 2015 sebesar US$7,67 miliar.