"Saya kembali ke Indonesia dan menjadi dosen, karena sangat tertarik di dunia mengajar sejak magang menjadi asisten dosen. Jadi sebelum lulus S2, saya sudah ditawari bekerja di President University, karena minat dan passion saya, maka saya putuskan untuk menjadi seorang dosen di almamater tercinta ini," kata Kunthi, dikutip Senin (16/1).
Dosen muda kelahiran Bogor, Jawa Barat, 26 tahun lalu menilai mengajar di President University mengingatkannya kembali saat-saat menjadi mahasiswa dari kurun 2008 – 2012.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama kuliah di President University yang terletak di Kawasan Industri Jababeka, Kunthi merasakan suasana yang sangat kondusif untuk belajar karena didukung oleh fasilitas dormitory atau asrama.
Setelah lulus pada tahun 2012 dengan IPK 3,76, Kunthi melanjutkan kuliah ke Cardiff Metropolitan University, United Kingdom, dan sempat magang di Kementerian Luar Negeri, bagian Keamanan Internasional dan Pelucutan Senjata.
Pengajaran yang diberikannya memang sedikit berbeda dengan saat dia menjadi mahasiswa di President University. Kunthi mencoba mengimplementasikan apa yang didapatkannya ketika kuliah di Inggris.
Selain itu, Kunthi juga mengimplementasikan beberapa teknologi yang kampus sediakan seperti pengumpulan tugas melalui portal turnitin.com untuk mencegah terjadinya plagiarisme saat mahasiswa menulis tugas. Bahkan saat ini telah digunakan platform SCHOOLOGY atau KELAS VIRTUAL dimana mahasiswa bisa mengakses semua materi yang diberikan di kelas virtual, lalu mendiskusikannya dan mengerjakan quiz.
Model pembelajaran yang diterapkannya itu, karena Kunthi melihat bahwa mahasiswa sekarang sangat kreatif dan juga sangat cepat dalam beradaptasi dengan teknologi terbaru. Mereka sangat mengenal dan terkadang bergantung kepada Internet.
“Hal ini saya jadikan sebagai tantangan, karena saya mencoba untuk memberikan edukasi, informasi, pengetahuan, dan juga pengalaman yang bersifat aplikatif dan tidak bisa mereka dapatkan di internet,” tegas Kunthi. (gen)