Namun demikian, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ULN Indonesia melambat. Pada Oktober 2016, ULN tercatat tumbuh 6,5 persen secara year on year. Perlambatan disinyalir karena penurunan utang sektor publik dan swasta.
"BI memandang perkembangan ULN pada November 2016 masih cukup sehat, namun tetap mewaspadai risikonya terhadap perekonomian nasional," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Tirta Segara dalam keterangan resmi, Senin (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, ULN sektor publik tumbuh hingga 12,1 persen pada November 2016. Sementara, ULN sektor swasta turun 3,4 persen.
Sementara itu, ULN berjangka pendek sebesar US$ 42,0 miliar, terdiri dari ULN sektor swasta sebesar US$ 41,2 miliar dan sektor publik sebesar US$ 800 juta. ULN berjangka panjang tumbuh 3,1 persen, sementara utang jangka pendek naik 7,1 persen.
Berdasarkan data BI, utang luar negeri swasta masih didominasi oleh sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa utang luar negeri keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,8 persen.
"Ke depan, BI akan terus memantau perkembangan ULN, khususnya ULN sektor swasta. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makroekonomi," pungkas Tirta.