Kepala Departemen kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menyebut, potensi kenaikan inflasi tersebut muncul akibat rencana pemerintah untuk terus mereformasi sejumlah bantuan subsidi yang berpangkal pada kenaikan harga barang dan jasa.
Khusus tahun ini, bank sentral memprediksi angka inflasi akan berada sedikit di atas 4 persen, sejalan dengan prediksi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena itu, ia menilai masih ada beberapa reformasi subsidi yang harus dilakukan pemerintah.
Mengawali tahun ini, masyarakat Indonesia memang dikejutkan oleh sejumlah kenaikan tarif barang dan jasa. Sebut saja kenaikan tarif BBM jenis Pertamax dan Pertalite, kenaikan tarif administrasi STNK hingga diterbitkannya golongan tarif listrik baru bagi pelanggan golongan 900 VA.
"Kalau STNK, perlu dipahami dulu, STNK yang jelas itu biaya administrasi kan. Bobotnya di dalam keranjang inflasi 0, 22 persen. Kemarin naiknya kan sekitar 100 persen, kira-kira dampaknya 0,22-0,24 persen perkiraan kami," jelasnya.
Lebih lanjut, Juda mengatakan, sumber tekanan inflasi tahun ini selain kenaikan adimistered prices adalah harga pangan,
"Volatile food harus diperhatikan, kita tahu di 2016 volatile cukup terjaga. Tahun lalu administered prices terjaga. Tahun ini , ini yang harus diperhatikan. Ini adalah bagian dari keberlanjutan kebijakan yang dilakukan pemerintah," kata Juda.